PUSAT INVESTASI
Pusat investasi merupakan pusat pertanggungjawaban yang
bertugas untuk mengatur investasi guna mencapai laba yang seoptimal
mungkin.Kewenangan Pusat Investasi adalah menyangkut pengelolaan laba (yang
terdiri atas pendapatan dan biaya) serta mengelola aset yang dipergunakan untuk
memperoleh laba.Dengan demikian, Pusat Investasi diukur prestasinya berdasarkan
perbandingan antara laba yandiperoleh dengan aset (investasi) yang
dipergunakan.
Tujuan pengukuran
prestasi suatu pusat investasi, adalah :
1. Menyediakan
informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai investasi yang
digunakan oleh manajer divisi dan memotivasi mereka untuk melakukan keputusan
yang tepat.
2. Mengukur
prestasi divisi sebagai kesatuan usaha yang berdiri sendiri.
3. Menyediakan
alat perbandingan prestasi antar divisi untuk penentuan alokasi sumber ekonomi.
Informasi dari
Pusat Investasi dapat digunakan memotivasi Manajer Divisi dalam:
1. Menghasilkan
laba yang memadai dengan wewenang mengambil keputusan tentang sumber ekonomi
dan fasilitas fisik yang digunakan.
2. Mengambil
keputusan untuk menambah investasi bila investasi tersebut memberikan kembalian
(return) yang memadai.
3. Mengambil
keputusan untuk melepas/mengurangi investasi yang tidak memberikan kembalian
(return) yang memadai.
Bentuk Pusat
Investasi
Bentuk
pusat investasi adalah Kantor Pusat Perusahaan atau Unit Bisnis Strategis
maupun Divisi yang diberi wewenang atau kebijakan maksimum dalam menentukan
keputusan operasi yang tidak hanya berjangka pendek, tetapi juga tingkat
(besarnya) dan tipe (jenis) investasi.
Masalah
yang timbul pada Pusat Investasi adalah berkaitan dengan pengukuran dan tolok ukur
prestasi pusat investasi.
1. Pada umumnya tujuan manajer unit usaha adalah
memperoleh laba yang memuaskan dari investasi yang ditanamkan.
2.
Laba yang yang diperoleh, berasal dari modal yang
ditanam untuk memperoleh laba tersebut.
3.
Makin besar modal yang ditanam belum tentu makin besar
pula labanya.
Terdapat dua metode dalam mengukur prestasi Pusat Investasi.Pertama,
pusat investasi diukur prestasinya dengan menghitung laba yang diperoleh dengan
investasinya (investment base). Perhitungan ini disebut dengan Return on
Investmen atau ROI. Kedua, pengukuran prestasi dilakukan dengan menghitung
Economic Value Added (EVA) yang sering disebut juga sebagai residual income.
Keuntungan ROI :
1. Mendorong
Manajer untuk memberikan perhatian yang lebih luas terhadap hubungan antara
penjualan, biaya dan investasi yang seharusnya menjadi fokus bagi manajer
investasi.
2. Mendorong
efisiensi biaya.
3. Bisa
mengurangi investasi yang berlebihan
Kelemahan ROI :
1. Manajer
pusat investasi cenderung menolak investasi yang bisa menurunkan ROI pusat
pertanggung jawabannya, walaupun akan meningkatkan profitabilitas perusahaan
secara keseluruhan.
2. Tendorong
Manajer pusat investasi hanya berpikiran jangka pendek tanpa memperhatikan
kepentingan jangka penjang.
Kebaikan Residual
Income :
1. Manajer
pusat investasi cenderung menerima investasi yang menurut ROI tidak
menguntungkan ROI sehingga tidak diterima walaupun secara perusahaan
keseluruhan menguntungkan.
2. Memungkinkan
penggunaan Cost of Capital yang berbeda-beda pada jenis aktiva.
Kelemahan Residual
Income :
Seperti
halnya ROI, Residual Income mendorong hanya pencapaian jangka pendek, tanpa
memperhatikan pencapaian jangka panjang.
Mengukur dan Mengendalikan
Aktiva yang Dikelola
1. Kas
:
Pengendalian Kas
secara terpusat cenderung menginginkan saldo kas yang lebih kecil dari pada
yang ingin dipegang oleh Manajer Unit Usaha. Sehingga Kas yang ada di Unit
usaha lebih kecil dari pada sebenarnya, jika unit usaha tersebut berdiri secara
independen.
2. Piutang
:
Manajer Unit Usaha
dapat mempengaruhi tingkat piutang secara tidak langsung, melalui kemampuan
melakukan penjualan dan memberikan batas kredit dan penagihannya dilakukan oleh
Unit Penagihan. Masalah piutang yang dimasukkan pada unit investasi apakah
sebesar Harga Pokok Penjualan atau ditambah laba, karena uang yang diperoleh
dapat diinvestasikan lagi, sedangkan pencatatannya hanya dengan nilai buku.
3. Persediaan
:
Perlakuannya sama
dengan Piutang yaitu dicatat pada akhir periode dengan metode yang dipilih
untuk tujuan akuntansi keuangan. Oleh sebab itu perlu digunakan sistem biaya
standard atau rata-rata dan biaya yang sama yang juga digunakan untuk mengukur
Harga Pokok Penjualan pada perhitungan Laba/Rugi.
4.
Modal Kerja secara Umum :
Perlakuannya sangat
bervariasi, tetapi yang diperlukan bahwa modal kerja (aktiva lancar) adalah
untuk memenuhi kewajiban lancar, sehingga Manajer Unit Usaha bertanggung jawab
untuk mengawasi hutang tersebut.
5.
Properti, Pabrik dan Peralatan (Aktiva Tetap) :
Aktiva tetap dicatat
dng harga perolehan dan didepresiasi sepanjang umur ekonomisnya. Pendekatan ini
digunakan untuk mengukur profitabilitas unit usaha yang menggunakan aktiva ini.
6.
Asset yang menganggur :
Jika memiliki asset
yang mengganggur yang dapat digunakan oleh unit lain, maka unit usaha tersebut
boleh mengeluarkan asset dimaksud dari investasinya sehingga tidak
diperhitungkan sebagai penilaian kinerjanya.
7.
Aktiva Tidak berwujud :
Biasanya perusahaan
yang melakukan LITBANG dan pemasaran dengan biaya yang cukup besar kemudian
mengkapitalisasikan biaya LITBANG ini sebagai investasi jangka panjang yang
dinamakan Aktiva Tidak Berwujud kemudian di amortisasi setiap tahunnya. Hal ini
mengubah cara pandang Manajer Unit Usaha karena akan berpengaruh terhadap biaya
bertambah dan aktiva berkurang. Jumlah beban modal yang berkurang x tarip biaya
modal akan menyebabkan EVA berdampak positif.
8.
Kewajiban tidak lancar :
Dana-dana yang
diperoleh Kantor Pusat diperoleh dari internal dan eksternal. Hal ini perlu
dipertimbangkan untuk dihitung secara terpisah, karena kadang-kadang pinjaman
lebih besar modal. Oleh sebab itu perhitungan EVA harus dihitung berdasarkan
pinjaman yang berasal dari Kantor Pusat dan bukan dari total aktiva.
9.
Beban Modal :
Tarip beban modal
ditentukan oleh Kantor Pusat yang lebih besar dari tarip pendanaan dengan
hutang. Sedangkan total dana yang digunakan adalah campuran (hutang ditambah
modal berbiaya tinggi). Dengan demikian, tarif tersebut lebih kecil dari pada
estimasi biaya modal perusahaan, sehingga EVA diatas rata-rata unit usaha lebih
besar 0. Jika tarip modal kerja lebih kecil dari pada untuk aktiva tetap,
risiko modal kerja lebih kecil dari pada aktiva tetap, karena dananya digunakan
untuk keperluan jangka pendek.
10. Survei-survei Praktik
Kebanyakan
perusahaan memasukan unsur aset tetap ke dalam dasar investasi pada nilai buku
bersih.Perusahaan-perusahaan tersebut melakukannya karena ini merupakan jumlah
dengan mana aset tersebut dicatat dalam laporan keuangan, dan oleh karenanya,
sesuai dengan laporan keuangan tersebut mencerminkan jumla mondal yang
digunakan dalam divisi tersebut.
11. EVA
vs. ROI
Hampir semua
perusahaan yang mempunyai pusat investasi mengevaluasi unit-unit usahanya
berdasarkan ROI, dibandingkan yang menggunakan EVA.Ada tiga keuntungan
ROI.Pertama, ROI merupakan pengukuran yang komprehensif dimana semua
mempengaruhi laporan keuangan tercermin dari rasio ini.Kedua, ROI mudah
dihitung, mudah dipahami, dan sangat berarti dalam pengertian absolut.Ketiga,
ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke setiap unit organisasi yang
bertanggung jawab terhadap profitabilitas, tanpa mempedulikan ukuran dan jenis
usahanya.Kinerja dari unit yang berbeda dapat saling dibandingkan.Selain itu,
data ROI pesaing bersedia sehingga dapat dijadiakan sebagai dasar perbandingan.
Pendekatan EVA
memiliki empat keunggulan diabanding ROI. Pertama, dengan EVA seluruh unit
usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk perbandingan investasi. Di lain
pihak, pendekatan ROI memberiakn insentif yang berbeda untuk investasi diantara
unit-unit usaha. Kedua, keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI suatu pusat
investasi dapat menurunkan laba keseluruhan.Ketiga, tingkat suku bunga yang
berbeda dapat digunakan untuk jenis aset yang berbeda pula.Keempat, EVA
berlawanan dengan ROI, memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap
perubahan-perubahan dalam nilai pasar perusahaan.Para pemegang saham merupakan
pemilik kepentingan yang penting dalam perusahaan. Ada beberapa alasan mengapa
penciptaan nilai pemegang saham menjadi sangat penting bagi perusahaan: a).
Mengurangi risiko pengambilalihan (takeover); b). Menciptakan nilai tukar unutk
agresivitas dalam merger dan akuisisi, dan c). Mengurangi biaya modal, sehingga
memungkinkan investasi yang lebih cepat untuk pertunbuhan masa depan. Jadi,
mengoptimalkan nilai pemegang saham merupakan tujuan penting bagi suatu perusahaan.Mandat
terbaik untuk nilai pemegang saham pada tingkat unit usaha adalah meminta para
manajer unit usaha untuk menciptakandan meningkatkan EVA. EVA diukur dengan
cara sebagai berikut:
EVA = Laba bersih – Beban modaldengan
Beban Modal = Biaya modal x modal yang
digunakan
(1) Cara
lain untuk menyatakan persamaan (1) adalah :
EVA = Modal yang digunakan (ROI – Biaya
modal)
12. Pertimbangan
Tambahan dalam Mengevaluasi Manajer
Dengan melihat
kelemahan ROI, kelihatannya mengejutkan bahwa ROI digunakan secara
luas.Diketahui bahwa kesalahan konseptual ROI untuk evaluasi kinerja adalah
nyata dan menyebabakan timbulnya perilaku disfungsional dari para manajer unit
usaha.Penggunaan EVA sebagai perangkat pengukuran kinerja sangat disarankan.Tetapi,
EVA tidak menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan perhitungan aset tetap
kecuali metode penyusutan anuitas yang dipergunakan, dan hal ini jarang
dilakukandalam praktik bisnis sehari-hari.EVA menyelesaikan masalah yang
ditimbulkan dari perbedaan potensi laba. Seluruh unit usaha, tanpa melihat
profitabilitasnya, akan termotivasi unutk meningkatkan investasi jika tingkat
pengembalian dari investasi tersebut melebihi tarif yang ditentukan oleh sistem
pengukuran.
Investasi dalam aset
tetap dikendalikan oleh proses anggaran modal sebelun terjadinya dan oleh audit
setelah penyelesaian untuk menentukan apakah ada arus kas yang diantisipasi
terwujud. Hal tersebut jauh dari memuaskan karena penghematan atau pendapatan
aktual dari akuisisi aset tetap tidak dapat diidentifikasikan.
13. Mengevaluasi
Kinerja Ekonomi suatu Entitas
Laporan kinerja
ekonomi unit usaha agak berbeda.Laporan-laporan manajemen dibuat bulanan atau
kuartalan sementara laporan kinerja ekonomi biasanya dibuat dengan selang waktu
yang tidak tetap, biasannya sekali dalam selang beberapa tahun.Laporan-laporan
manajemen cenderung menggunakan informasi historis atas biaya aktual yang
terjadi, sedangkan laporan-laporan ekonomi menggunakan informasi yang cukup
berbeda.
Laporan-laporan
ekonomi merupakan instrumen yang diagnostik. Laporan tersebut memberikan
indikasi apakah strategi unit usaha yang sekarang sudah memuaskan dan jika
tidak, keputusan apa yang harus diambil untuk unit usaha tersebut,
memperbesarnya, memperkecil, mengubah arah, atau menjualnya. Laporan-laporan
ekonomi dapat dijadiakan dasar untuk memperoleh nilai perusahaan secra
keseluruhan. Nilai semacam ini disebut breakup value-yaitu, estimasi
jumlah yang akan diteriam oleh para pemegang saham jika masing-masing unit
usaha dijual. Perbedaan yang paling nyata antara kedua jenis laporan tersebut
adalah bahwa laporan ekonomi lebih terfokus pada profitabilitas dimasa depan
daripada profitabilitas yang sekarang atau yang lalu.
Referensi
Dwiermayanti. 2010. “Pusat Investasi”. https://dwiermayanti.wordpress.com/2009/10/23/pusat-investasi/ .
Riandasa. 2011. “Mengukur Dan Mengendalikan Aset Yang Dikelola” . https://accounting1st.wordpress.com/2011/07/27/mengukur-dan-mengendalikan-aset-yang-dikelola/ .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar